Tuesday, April 4, 2017
Jejak Seribu Penyu Part 1
Jejak Seribu Penyu Part 1
Bintan, Akhir Februari 2009
Kau... kenapa mengikutiku?
Aku tidak mengikutimu. Aku hanya ingin ... bicara denganmu.
Bukankah saat ini kita tengah bicara?
Bukan, bukan hanya sekadar bicara, tapi ada yang hendak kutunjukkan padamu.
Apa? Apa yang mau kau tunjukkan?Tidak sekarang. Tapi nanti... di tempatku... pada saat yang tepat.
Semerbak melati menguar lembut. Menjelajah ruang temaram. Hanya sebuah lampu tidur, satu-satunya penerang kamar di saat malam kian memekat.
Via menarik selimut. Dari bibirnya mengalir desah. Setengah keluh. Untuk apa datang kembali? Apa yang hendak ia tunjukkan? Kapan saat yang tepat?
Satu demi satu pertanyaan, luruh bersama penat yang kian membenamkan tubuhnya di balik selimut.
Sesaat, hanya remang dan sunyi yang mengeksplorasi ruang temaram. Aroma lembut kembali menguar.
Bukan. Kali ini bukan semerbak melati, melainkan bau laut. Ya. Ini aroma laut! Pasir putih, riak ombak, batu karang....
Tidak! Via menggeleng kuat-kuat. Seraya membekap erat bantal guling pada kedua matanya yang telah terkatup rapat. Lelah... lelah itu menderanya.
Tuhan, andai jendela itu tetap Engkau izinkan untuk terbuka, kumohon uluran tangan-Mu. Jangan Engkau biarkan keleluasaan itu menguasaiku, betapa kuinginkan lelapku sempurna malam ini....
Dimensi Lyvia
Perairan Tambelan, 2 Hari Kemudian
Hei, bangun! Kita sudah sampai! Seruan keras itu tak hanya membuyarkan mimpinya, tapi juga nyaris membuatnya jatuh tertelungkup. Maklum, tidurnya sejak semalam bukanlah beralas kasur empuk, melainkan hanya berupa sebuah bangku kayu selebar empat puluh senti.
Bangku kayu yang di dalam kapal ini, tersusun berderet-deret, saling sambung-menyambung, dengan sebuah meja diapit oleh dua deret bangku, dan fungsi sesungguhnya adalah sebagai kursi ruang makan yang tepat bersebelahan dengan dapur ABK.
Jumlah penumpang yang berdesakan di dek, di dalam kabin bahkan di lorong-lorong sepanjang lambung kapal, membuat Via dan beberapa penumpang lainnya yang sedikit terlambat tiba di dermaga, akhirnya harus terdampar di ruang makan.
Awalnya hal itu bukan masalah, karena mereka para penumpang yang terdampar itu-- mengira bahwa ruang makan yang terhubung langsung dengan dapur adalah tempat ternyaman untuk menabung stok energi menjelang tibanya kapal di tujuan. Namun kenyataannya, posisi strategis itu sekaligus tepat berada di bawah AC sentral bertemperatur 18 derajat yang tak dapat diubah-ubah. Membuat malam yang mereka lalui seakan berada di dalam lemari es. Masing-masing berbaring dengan menekuk lutut, melapisi tubuh dengan lembar demi lembar yang dikeluarkan dari dalam tas, mulai dari sarung, jaket, syal hingga kaus kaki, demi melindungi diri dari siksaan dingin yang menggerogot hingga ke tulang.
Tak cukup sampai di situ, saat waktu makan pun kian mengorupsi kenyamanan yang tersisa. Mereka harus melepas kasur-kasur petak sebagai alas duduk penumpang yang datang berbondong-bondong ke ruang makan, berebut menyendok jatah ransum yang tak hanya sangat terbatas, tapi juga dengan kadar higienitas yang memprihatinkan.
Sluurpp! Hmm. Siapa gerangan yang menghirup sedemikian nikmat ? Di tengah terpa ombak Laut Cina Selatan yang bahkan sejak semalam telah berkali-kali menggoyahkan isi lambung? Via menoleh. Ah.
Ternyata Si Jutek. Pria yang hanya mau menoleh jika dipanggil Fei, dan beberapa menit lalu, Si Jutek itulah yang telah membangunkannya dengan berteriak persis di telinganya.
Enak sekali, ya, kopinya? Dicobanya untuk berbasa-basi. Siapa pun tahu kalau Fei lebih sering membatu.
Kalaupun sesekali bicara, kalimatnya lebih didominasi nada ketus atau sinis. Sama sekali tak sedap didengar telinga. Tanpa peduli siapa yang menjadi lawan bicara. Singkat kata, Fei sama sekali bukan tipe pria yang tepat untuk melabuhkan simpati. Sebaliknya, justru lebih berpotensi memunculkan rasa antipati.
Pertanyaan Via kali ini juga tak menghasilkan respons apa pun, selain bunyi sesapan berikutnya yang tak kalah nikmat dan Fei yang berkonsentrasi penuh pada kopinya. Sebuah perjalanan yang menyenangkan.
Sama nikmatnya dengan enam gelas kopi instan dan kudapan lainnya sejak kapal mulai meninggalkan dermaga.
Fei menoleh. Ada pijar di matanya yang dalam sedetik langsung tersulut nyala. Rupanya kau seorang pengamat yang jeli, Nona.
Tentu! Aku mendekam di ruang ini sejak semalam dan hanya sesekali naik ke dek. Jadi kutahu persis penumpang yang paling sering absen ke dapur dan meminta air panas di tengah malam buta.
Kembali, pijar itu membara. Mungkin, baru pertama kalinya Fei menemukan lawan bicara yang berimbang.
Bagi sebagian orang, mungkin, sorot setajam itu seakan mampu menelanjangi isi hati. Namun, tidak bagi Via. Baginya, tatapan Fei tak lebih dari sebatang anak panah yang terpental setelah meleset dari sasaran. Sedikit pun tak mengubah riak tenangnya saat mengeluarkan isi make up pouch-nya: bedak, lipstik, pensil alis, maskara....
Cukup! Sebuah hantaman tak terduga pada permukaan meja, membuat sebagian perangkat kosmetik itu berlompatan, lalu terjatuh dan menggelinding.
Kau dengar, ya, gadis pesolek! Jika bukan karena selembar surat tugas itu, tak pernah kuinginkan berada di perjalanan teramat membosankan ini, apalagi harus kembali ke pulau itu! Dan semua yang kulakukan untuk menghangatkan rongga lambungku ini, kau tahu? Hanya demi membunuh bosan yang sudah sejak semalam menggerung sampai ke ubun-ubun!
Kalimat pedas yang berakhir dengan entakan tubuh pemiliknya, meninggalkan kopi yang masih bersisa lebih separuh. Dasar, pria aneh. Seharusnya Fei tak bertugas di seksi kehumasan. Lebih cocok jika di satpol.
Seraya tersenyum geli membayangkan sosok Fei dalam balutan seragam satpol tengah mengejar-ngejar para pedagang liar di pinggir jalan, Via memungut alat perangnya yang berserakan dan memasukkan kembali ke dalam pouch. Bunyi sirene meraung, pertanda kapal telah merapat ke dermaga.
Belasan ibu-ibu berbaju kurung warna seragam serentak menabuh kompang ketika ujung tangga telah menjejak pasir pantai yang putih jernih. Lengkap diapit beberapa pria yang menjinjing bunga manggar. Tak lupa menaburkan beras kunyit pada rombongan pertama yang turun dari kapal.
Berbeda dari biasa, penyambutan kali ini terasa lebih istimewa, karena penumpang yang datang di antaranya memang terdapat rombongan orang-orang istimewa. Bupati, ketua dewan, kepala dinas, anggota parpol, wartawan, hingga tokoh seni dan budaya, juga para pegawai pemda yang turut serta. Dalam rombongan itu, tak kurang dari 80-an orang.
Kunjungan kerja sekali dalam setahun telah menjadi agenda rutin pemerintah daerah untuk menjejakkan kaki di Tambelan, pulau terjauh yang memiliki 54 gugus pulau kecil. Meski secara geografis lebih dekat ke Kalimantan, secara administrasi wilayah tercatat sebagai bagian dari Kabupaten Bintan.
Menginap di mana nanti?
Hei! Tumben! Si Jutek itu telah menjejeri langkah Via dan tergerak bibirnya untuk melontarkan basa-basi.
Kalau tidak salah, rombonganku diinapkan di rumah Pak Rahman. Kamu?
Penulis : Riawani Elyta
Copyright © 2011. Sahabat Teknologi . All Rights Reserved
http://andika-silalahi.blogspot.com/feeds/posts/default
Available link for download
How Wireless Power Transfer Works
How Wireless Power Transfer Works
You might have already come across this technology and might have gone through many related theories on the Internet.
Although the Internet may be full of such articles explaining the concept with examples and videos, the reader mostly fails to understand the core principle governing the technology, and its future prospects.
In this article well roughly try to get an idea regarding how a wireless electricity transfer happens or works or conduction takes place and why the idea is so difficult to implement over large distances.
The most common and classic example of wireless power transfer is our old radio and TV technology which works by sending electrical waves (RF) from one point to the other without cables, for the intended data transfer.
However the drawback behind this technology is that it is unable to transfer the waves with high current such that the transmitted power becomes meaningful and usable on the receiving side for driving a potential electrical load.
This problem becomes difficult since the resistance of air could be in the range of millions of mega Ohms and thus extremely difficult to cut through.
Another hassle that makes the long distance transfer even more difficult is the focusing feasibility of the power to the destination.
If the transmitted current is allowed to disperse over a wide angle, the destination receiver might not be able to receive the sent power, and could possibly acquire just a fraction of it, making the operation extremely inefficient.
However, transferring electricity over short distances without wires looks much easier and has been successfully implemented by many, simply because for short distances the above discussed constraints never become an issue.
For a short distance wireless power transfer, the air resistance encountered is much smaller, within a range of a few 1000 meg ohm (or even lesser depending on the proximity level), and the transfer becomes feasible rather efficiently with the incorporation of high current and high frequency.
In order to acquire an optimal distance-to-current efficiency, the frequency of transmission becomes the most important parameter in the operation.
Higher frequencies enable larger distances to be covered more effectively, and therefore this is one element that needs to be followed while devising a wireless power transfer apparatus.
Another parameter that helps the transfer easier is the voltage level, higher voltages allow involving lower current, and in keeping the device compact.
Now lets try to grasp the concept through a simple circuit set up:
R1 = 10 ohm
L1 = 9-0-9 turns, that is 18 turns with a center tap using a 30 SWG super enameled copper wire.
L2 = 18 turns using 30 SWG super enameled copper wire.
T1 = 2N2222
D1-D4 = 1N4007
C1 = 100uF/25V
3V = 2 AAA 1.5V cells in series
The image above shows a straightforward wireless power transfer circuit consisting of the transmitter stage on the left and the receiver stage on the right side of the design.
Both the stages can be seen separated with a significant air gap for the intended shift of electricity.
The power transmitter stage looks like an oscillator circuit made through a feedback network circuit across an NPN transistor and an inductor.
Yes thats right the transmitter indeed is an oscillator stage which works in a push-pull manner for inducing a pulsating high frequency current in the associated coil (L1).
The induced high frequency current develops a corresponding amount of electromagnetic waves around the coil.
Being at a high frequency this electromagnetic field is able to tear apart through the air gap around it and reach out to a distance that be permissible depending upon its current rating.
The receiver stage may be seen consisting of only a complimenting inductor L2 quite similar to L1, which has the sole role of accepting the transmitted electromagnetic waves and converting it back to a potential difference or electricity albeit at a lower power level due to the involved transmission losses through the air.
The electromagnetic waves generated from L1 is radiated all around, and L2 being somewhere in the line is hit by these EM waves. When this happens, the electrons inside the L2 wires are forced to oscillate at the same rate as the EM waves, which finally results in an induced electricity across L2 too.
The electricity is rectified and filtered appropriately by the connected bridge rectifier and C1 constituting an equivalent DC output across the shown output terminals.
Actually, if we carefully see the working principle of wireless power transfer we find its nothing new but our age old transformer technology that we ordinarily use in our power supplies, SMPS units etc.
The only difference being the absence of the core which we normally find in our regular power supply transformers. The core helps to maximize (concentrate) the power transfer process, and introduce minimum losses which in turn increases the efficiency to a great extent
The core also allows the use of relatively lower frequencies for the process, to be precise around 50 to 100 Hz for iron core transformers while within 100kHz for ferrite core transformers.
However in our proposed article regarding how wireless power transfer functions, since the two sections need to be entirely aloof from each other, the use of a core becomes out of question, and the system is compelled to work without the comfort of an assisting core.
Without a core it becomes essential that a relatively higher frequency and also higher current is employed so that the transfer is able to initiate, which may be directly dependent on the distance between the transmitting and the receiving stages.
To Summarize, from the above discussion we can assume that to implement an optimal power transfer through air, we need to have the following parameters included in the design:
A correctly matched coil ratio with respect to the intended voltage induction.
A high frequency in the order of 200kHz to 500kHz or higher for the transmitter coil.
And a high current for the transmitter coil, depending on how much distance the radiated electromagnetic waves is required to be transferred.
Available link for download
ID Card Psd
ID Card Psd
Download 100% Working File

ID Card Psd


PAssword>ahsanbaig

Available link for download
Informasi VGA Card Terbaik Tahun 2013
Informasi VGA Card Terbaik Tahun 2013
Jika Anda bingung memilih merk VGA yang akan di gunakan pada komputer Anda, dalam postingan kali ini saya akan memberikan Anda referensi tentang VGA Card terbaik tahun 2013 yang telah disurvey dan di ujicoba berdasarkan range harga dan kualitas dari masing-masing VGA Card.Saat ini di dunia komponen kartus Grafis di kuasai 2 raksasa teknolog yaitu :
- AMD
- NVIDIA
Teknologi yang di keluarkan dari kedua perusahaan besar saling bersaing dalam memberikan dukungan grafis baik dalam hal Gaming, Designing, Dll.
VGA Card berdasarkan Harga :
- Di Bawah - IDR. 1.250.000, 00
- IDR. 1.500.000, 00 - IDR. 3.000.000, 00
- ( Harga / Di atas ) > IDR. 3.000.000, 00
Untuk itu pada tahun 2013 ini di lakukan survey dan uji coba VGA berdasarkan nilai berbanding dengan uang yang akan di keluarkan.
- VGA dengan harga di bawah IDR. 1,25 Juta Rupiah :
| Di Bawah - IDR. 1.250.000, 00 | |||
|---|---|---|---|
| Product | Radeon HD 6670 DDR 3 | Radeon HD 7750 | |
| GPU | Turks (VLIW5) | Cape Verde (GCN) | |
| Process | 40 nm | 28 nm | |
| Shader Unit | 480 | 512 | |
| Texture Unit | 24 | 32 | |
| ROPs | 8 | 16 | |
| Core (Shader) Clock | 800 MHz | 800 MHz | |
| Memory Clock | 800 MHz DDR3 | 1125 MHz GDDR5 | |
| Memory Bus | 128-bit | 128-bit | |
| Memory Bandwidth | 25.6 GB/s | 72 GB/s | |
| Memory Capacity | 1 or 2 GB | 1 or 2 GB | |
| DirectX, Shader, OpenGL Capability | 11/5.0/4.1 | 11/5.0/4.2 | |
| Max. TDP | 66 W | 55 W | |
| Min. Power Supply | 400 Watt | 400 Watt | |
- VGA dengan Range Harga IDR 1,5 juta - IDR 3 Juta ( Kiri - Kanan / Murah - Mahal )
| IDR. 1.500.000, 00 - IDR. 3.000.000, 00 (Kiri ke Kanan) | ||||
|---|---|---|---|---|
| Product | Radeon HD 7770 | Ge Force GTX 650 Ti | Radeon HD 7850 1 GB | Radeon HD 7870 LE |
| GPU | Cape Verde (GCN) | GK106 (Kepler) | Pitcairn (GCN) | Tahiti LE (GCN) |
| Process | 28 nm | 28 nm | 28 nm | 28 nm |
| Shader Units | 640 | 768 | 1024 | 1536 |
| Texture Units | 40 | 64 | 64 | 96 |
| ROPs | 16 | 16 | 32 | 32 |
| Core (Shader) Clock | 1000 MHz | 925 MHz | 860 MHz | 925/975 MHz |
| Memory Clock | 1125 MHz GDDR5 | 925 MHz GDDR5 | 1200 MHz GDDR5 | 1500 MHz GDDR5 |
| Memory Bus | 128-bit | 128-bit | 256-bit | 256-bit |
| Memory Bandwidth | 72 GB/s | 86.4 GB/s | 153.6 GB/s | 192 GB/s |
| Memory Capacity | 1 or 2 GB | 1 or 2 GB | 1 GB | 2 GB |
| DirectX, Shader, OpenGL Capability | 11/5.0/4.2 | 11/5.0/4.3 | 11/5.0/4.2 | 11/5.0/4.2 |
| Max. TDP | 80 W | 110 W | 130 W | 200 W |
| Aux. Power Connector(s) | 1 x 6-pin PCIe | 1 x 6-pin PCIe | 1 x 6-pin PCIe | 2 x 6-pin PCIe |
| Min. Power Supply | 500 Watt | 400 Watt | 500 Watt | 500 Watt |
- VGA dengan Range Harga di Atas IDR. 3 Juta ( Kiri - Kanan / Murah - Mahal )
| ( Harga ) > IDR. 3.000.000, 00 (Kiri ke Kanan) | ||||
|---|---|---|---|---|
| Product | Radeon HD 7950 Boost Edition | Ge Force GTX 670 | Radeon HD 7970 | Ge Force GTX 690 |
| GPU | Tahiti (GCN) | GK104 (Kepler) | Tahiti (GCN) | GK104 (Kepler) |
| Process | 28 nm | 28 nm | 28 nm | 28 nm |
| Shader Units | 1792 | 1344 | 2048 | 3072 (2 x 1536) |
| Texture Units | 112 | 112 | 128 | 256 (2 x 128) |
| ROPs | 32 | 32 | 32 | 64 (2 x 32) |
| Core (Shader) Clock | 850 MHz | 915 MHz | 925 MHz | 915 MHz |
| Memory Clock | 1250 MHz GDDR5 | 1502 MHz GDDR5 | 1375 MHz GDDR5 | 1502 MHz GDDR5 |
| Memory Bus | 384-bit | 256-bit | 384-bit | 256-bit |
| Memory Bandwidth | 240 GB/s | 192.2 GB/s | 264 GB/s | 192.2 GB/s |
| Memory Capacity | 3 GB | 2 or 4 GB | 3 GB | 4 GB |
| DirectX, Shader, OpenGL Capability | 11/5.0/4.2 | 11/5.0/4.3 | 11/5.0/4.2 | 11/5.0/4.3 |
| Max. TDP | 200 W | 170 W | 250 W | 300 W |
Available link for download
Read more »
Monday, April 3, 2017HTML BranderHTML BranderIf you have ever wanted to establish an affiliate program that will boost your sales, leads and website traffic through the use of your own large pay for performance marketing sales team, then you need to add this powerful software tool to your marketing toolbox. ![]() Heres how the program quickly creates branded websites:
http://www.internet-marketing-software-and-ebooks.com/PLR_MRR_HTML_Brander_07f2.zip Available link for download
Subscribe to:
Posts (Atom)
| ||||
